Nama :
Abiyoga Pratama
NIM :
1571503273
Kelompok : YB
Mata Kuliah :
Perkembangan ICT
Dosen : Dudi Sabil Iskandar
Rangkuman Buku ‘Keruntuhan Jurnalisme’
Karya : Dudi Sabil Iskandar
BAB I
INDIKATOR KERUNTUHAN JURNALISME
A. Jurnalisme Bias
Harus diakui kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo
atau yang diakrab disapa Jokowi, unik dan fenomenal. Unik karena gaya
kepemimpinan yang ditampilkan berbeda dengan mayoritas kepemimpinan yang
ditampilkan berbeda dengan mayoritas kepemimpinan yang ada mulai tingkat
presiden, gubernur, walikota, hingga bupati.
Jokowi menjadi oase di tengah kelelahan masyarakat bawah
yang berharap memilikki pemimpin yang bisa memperbaiki taraf kehidupan mereka.
Kepemimpinan bersih Jokowi menyeruak di tengah-tengah ratusan kepala daerah
yang terjerat korupsi. Bersama wakil gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok),
Jokowi mempublikasikan penghasilan sebagai pejabat negara melalui media social.
Public bisa mengontrol dan mengkritisnya. Karena memiliki banyak nilai berita,
Jokowi secara pribadi, Gubernur DKI Jakarta ataupun sebagai kader partai,
selalu dikejar media. Ia pun memperoleh citra dan pecintraan postitif selama 24
jam secara gratis. Sejak menjabat gubernur, tahun lalu, nyaris tidak pernah ada
berita miring/negatif tentang Jokowi. Bahkan, ketika banjir besar melanda ibu
kota, sampai masuk ke Istana Negara, media memakluminya.
Dalam konteks inilah bius keunikan dan kehebatan Jokowi
menimbulkan bias media. Terhadap Jokowi, media lupa fungsi utamanya sebagai
WatchDog. Sesungguhnya media sudah dimabuk kekuasaan.
B. Jurnalisme dan Amplop Besar
Pengusaha media adalah pengusaha yang bukan orang sabar
dalam berinvestigasi jangka panjang tetapi yang mencari keuntungan secepatnya
dengan memanfaatkan kedekatan dengan kekuasaan. Dekat dengan kekuasaan dekat
dengan sumber dana/keuangan. Untuk dekat kekuasaan politik perlu memiliki dalam
bentuk kekuasaan lain. Hari ini, kekuasaan lain yang sangat kuat adalah media.
Oleh sebab itu jika kekuasaan politik dengan kekuasaan media bersatu,
bersinergis, maka uang dengan sendirinya akan mengalir. Inilah rumus sederhana
pengusaha media. Inilah yang penulis sebut dengan amplop besar. Jumlahnya tak
terhitung; tidak ada batasnya; tidak ada serinya.
Pada dua milist institusi wartawan yang berbeda tertera
‘undangan mengambil THR’ di salah satu instansi pemerintah. Tentu saja ada yang
tertawa senang, ada yang mencibir dengan geram, ada yang mengkritik. Pun, tentu
saja ada yang menyambutnya. Singkat kata di dua milist tersebut terjadi pro dan
kontra. Inti dari isi milist tersebut adalah institusi pemerintah tersebut
menyediakan THR untuk wartawan yang berttugas atau sehari-hari meliput kegiatan
di institusi pemerintah itu. Inilah yang penulis disebut sebagai amplop kecil;
recehan.
C. Jurnalisme dan Budaya Copy Paste
Dalam konteks jurnalisme, misalnhya, percepatan dan
kecepatan produksi berita telah mengubah alur berita dan kinerja bagi kru
redaksi dan hasil berita bagi masyarkat. Pertumbuhan media online atau situs
berita bak jamur di musim hujan telah memunculkan masalah baru. Problem
tersebut kemudian menjadi penyakit kronis yang kini mulai membudaya dalam
jurnalisme, yakni budaya salin dan tempel (copy paste). Di sisi lain, kemajuan
teknologi komunikasi juga mengakibatkan wartawan menjadi pemalas. Untuk apa
memverifikasi fakta, mengejar narasumber yang kualifaid, dan mendatangi tempat
kejadian perkara, jika semua persyaratan kejadian menjadi sebuah berita bisa
diselesaikan melalui teknologi komunikasi dan informasi seperti Telepon, SMS,
BBM, Whatsapp, Telegram dan seterusnya.
Kehadiran teknologi komunikasi dan informasi serta teknologi
transportasi menyebabkan percepatan dan kecepatan dalam segala hal termasuk
dalam dunia jurnalisme, khususnya berkaitan dengan produk berita di berbagai
media. Komunikasi dan informasi berkembang kearah pengelembungan, yang
menciptakan masyarakat kegemukan; kegemukan informasi, komunikasi, tontonan,
berita dan data.
D. Jurnalisme Pembuat Heboh
Menurut Burhan Bungin, ada empat tahapan kelahiran
konstruksi social media massa. Yaitu, penyiapan materi konstruksi, sebaran
konstruksi, pembentukan konstruksi realitas, dan konfirmasi. Dalam konteks hari
ini, kehadiran dan penggunaan internet yang sangat massif dan mengglobal,
penulis memandang sebagai datangnya sebuah era baru. Setiap individu bisa
menciptakan realitas sendiri. Ke depan bukan hanya institusi media yang membuat
heboh, tetapi kita pun bisa membuat heboh sendiri. Oleh sebab itu, kehadiran
internet harus diterima dengan afirmasi kritis. Penciptaan dan perkembangan isu
di dunia maya harus tetap dipandang dengan landasan etika. Hanya dengan begitu
internet berdaya guna salah satunya – membangun keterbukaan informasi untuk
publik.
E. Jurnalisme Tanpa Konfirmasi
Apa itu verifikasi fakta? Lagi-lagi jika mengacu pada dua
mbah jurnalisme Kovach dan Rosentiels. Keduanya mengatakan ada lima indikator
dalan verifikasi fakta. Yaitu:
1.
Wartawan jangan menambah atau
mengurang apa pun,
2.
Jangan menipu atau menyesatkan
pembaca, bersikaplah transparan,
3.
Sejujur mungkin tentang metode dan
motivasi,
4.
Bersandarlah terutama pada reportase
sendiri, dan
5.
Bersikaplah rendah hati.
F.
Jurnalime, Adakah Etika?
Secara filosofis, jurnalisme harus tetap berpijak pada
prinsip kebenaran, independensi, check and balance, cover all (multi sides),
verifikasi fakta, dan keberpihakan pada yang lemah. Etika jurnalisme berfungsi
untuk menjamin media memproduksi jurnalisme yang sehat dan mencerahkan.
Pertanyaanya, adakah etika jurnalisme di negeri ini? Penulis ragu; pesimistis.
BAB II
Penyebab Keruntuhan Jurnalisme
A. Postmodernisme
Dalam catatan Pauline M. Rosenau ada lima alasan mengapa
terjadi krisis dalam modernisme. Pertama, modernisme dinilai tidak bisa
menghadirkan kehidupan masa depan kehidupan yang lebih baik seperti yang
digambar-gambarkan para penganut sejatinya. Kedua, adanya kesewenang-wenangan
dalam mempergunakan ilmu pengetahuan dan teknologi modern untuk melanggengkan
kekuasaan. Ketiga, banyak pertentangan tajam antara teori dan fakta dalam
kaidah ilmu pengetahuan. Keempat, ilmu pengetahuan dan teknologi gagal
memecahkan problematika kemanusiaan. Kelima, aspek mistis dan metafisika
terabaikan karena memberi perhatian lebih kepada dimensi fisik.
Masyarakat postmodernisme adalah masyarakat yang secara
finansial, pengetahuan, relasi, dan semua prasyarat masyarakat modern
terlampaui. Artinya gejala postmodernisme muncul di berbagai belahan dunia jika
masyarakatnya sudah memiliki keterpenuhan material, namun ia kering dari sudut
kekayaan batin seperti dikemukakan Burhan Bungin di muka. Karena modernisme
berpilarkan rasio, ilmu, dan antropomorphisme.
Secara sederhana ajaran pokok postmodernisme terdiri dari
pertama menolak universalitas. Kedua, menolak ideologi. Ketiga, menolak
obyektifikasi. Keempat, mengkritik semua jenis sumber pengetahuan. Kelima,
menolak metodologi yang tetap dan pasti.
B. Cultural Studies
Futurolog Ziauddin Sardar mencatat lima karakter utama
cultural studies, yaitu;
1.
Kultural bertujuan meneliti subyek
masalah di sekitar praktik budaya dan hubungannya terhadap kekuasaan.
2.
Memiliki tujuan obyektif dalam
memahami buadaya dan bentuk-bentuknya yang kompleks dan menganalisis konteks
social dan politik di mana budaya itu sendiri terwujud.
3.
Obyek studi dan posisinya adalah
kritismedan aksi.
4.
Berusaha membuka dan rekonsiliasi
terhadap pengetahuan budaya dan bentuk obyektif pengetahuan.
5.
Memiliki komitmen pada evaluasi
etnik masyarakat social dan aksi politis barisan radikal.
Kajian cultural studies berfokus pada pesan aktual atau
wacana komunikasi. Focus cultural studies adalah representasi secara atau
bagaimana dunia dikonstruksi dan direpresentasi secara sosial oleh dan kepada
kita.
BAB III
Kemunculan Jurnalisme Baru
A. Jurnalisme dan Citizen Journalism
Sesungguhnya yang penting dari jurnalisme warga ini adalah
hasil kreasi sendiri. Yakni, tulisan yang berisi reportase, liputan, wawancara,
atau opini yang dimuat dalam blog atau media pribadi. Dengan tanpa sensor
seperti yang ada dalam media tradisional, tulisan jurnalisme warga lebih
genuine, meski bahasa dan kata-katanya tidak seperti media tradisional yang
lebih mengalir, khas, dan professional. Justru dengan bahasa apa adanya, fakta
begitu telanjang. Semua orang bisa membaca dan menginterpretasikan secara
jernih, tidak seperti yang berasal dari media tradisional, penuh dengan intrik,
ideology, dan kepentingan.
Sekali lagi kemajuan teknologi komunikasi dan informasi
memberikan kemajuan dalam salah satu aspek kehidupan manusia, khususnya dalam
berbagi informasi sesame anak manusia. Melalui internet, kini, semua orang bisa
menjadi wartawan. J.D. Lasica, memaparkan jurnalisme warga ke dalam lima tipe.
Yaitu, situs web berita atau informasi independen, situs berita partisipatoris
murni, situs media kolaboratif, bentuk lain dari media tipis, dan situs
penyiaran pribadi.
B. Jurnalisme dan Ideologi
Dalam ideologi terdapat tiga aspek. Yaitu, sebagai sitem
kepercayaan, proyeksi social, dan relasi social. Sebagai system kepercayaan,
ideologi bersemayam pada setiap individu, termasuk wartawan(reporter dan
editor), semua kru redaksi, dan pemilik media.
C. Jurnalisme dan Konvergensi Media
Konvergensi adalah perubahan teknologi, industry, budaya,
dan social dalam lingkaran media termasuk di dalamnya budaya kita. Beberapa
gagasan mendasar dari konvergensi antara lain konten media mengalir ke beberapa
platform media yang berbeda.
Konvergensi bukan hanya penyatuan konten-sebuah berita bisa
muncul di berbagai media yang berbeda dalam satu perusahaan, tetapi juga
penyatuan dalam satu induk perusahaan media. Dengan konvergensi media,
berita yang dahulu disebut mengabarkan peristiwa yang sudah terjadi, kini
definisi tersebut berubah menjadi peristiwa yang sedang terjadi
Dengan teknologi internet, kini semua aspek kehidupan
berawalan dengan e sebagai kependekan atau simbol dari elektronik. Dengan kata
lain internet yang semula diprediksi menjadi hantu penghancur media cetak, kini
justru menjadi dewa penyelamat. Media cetak yang dikonsepsi public hari ini
adalah Koran dan majalah, misalnya, di era internet berubah nama menjadi
e-paper dan e-magazine. Berarti digitalisasi media cetak adalah salah satu
bentuk konvergensi media.
.
D. Jurnalisme dan Krisis Berita
Media utama harus mengubah kesetiaan pembaca dan pemirsa
yang menginginkan metode pengiriman informasi yang lebih langsung. Setiap
generasi penerus akan menghasilkan dan menyerap lebih banyak informasi dari
pada pendahulunya. Warga makin tidak sabar dengan media yang tak bisa mengejar
kecepatan yang dihendaki mereka.
E. Jurnalisme dan Media Baru
Pavlik (2001) menganggap internet merupakan restrukturisasi
jurnalisme di empat demensi. Pertama, ia mengubah isi jurnalisme; kedua
keterampilan yang diperlakukan untuk wartawan; ketiga, struktur organisasi
berita dan kantor berita; dan akhirnya, hubungan antara jurnalisme dengan semua
publiknya, termasuk orang-orang, dan sumber-sumbernya
Dalam pemetaan perubahan jurnalistik, kita dapat melihat
tiga tingkat yang berbeda. Yaitu, tingkat organisasi media, dimana kita bisa
melacak perubahan dalam cara di mana jurnalisme diproduksi dalam lingkungan
online yang lebih luas perubahan yang terjadi pada organisasi tingkat. Kedua,
tingkat isi berita, dimana kita dapat mengamati perubahan dalam cara-cara yang
isinya terstruktur. Terakhir, tingkat masyarakat, di mana kita dapat melihat
pola pertubuhan konsumsi berita.
Hubungan antara internet dan jurnalisme pasti tampaknya
menjadi satu masalah. Di satu sisi kita menemukan internet menampilkan sebagai
katalis jika bukan penyebab yang sangat kritis (waktu, uang, dan perubahan
budaya) semua karena munculnya media baru. Pada saat yang bersamaan, internet
tampaknya telah memasuki babak baru, hubungan langsung antara orang dan berita,
serta antara manusia dan politik.
.
F. Jurnalisme dan Pencarian Core Mining
Ada
pun langkah yang harus ditempuh untuk menghasilkann makna, antara lain:
1.
Wartawan (reporter, cameramen,
editor, redaktur, produser) harus mengerti isu yang ingin ditulis/diproduksi
sebelum menulis berita atau apa yang dibicarakan narasumber,
2.
Membuat Lead (kepala berita) atau
intro artikel yang memikat,
3.
Buatlah skala,
4.
Perluas cerita,
5.
Berilah kutipan yang menarik,
6.
Berikan latar belakang dari mana
awal masalah atau apa perkembangan sebelumnya karena banyak pembaca yang pertama
kali membaca berita kita,
7.
Berilah kuliah singkat dengan
menerangkan sisi ilmiah,
8.
Pastikan antarparagraf tidak saling
menegasikandan meninggalkan; harus ada kesinambungan,
9.
Posisikan kita sebagai pembaca
jangan sebagai pembuat berita, dan jujur.
10.
Angka tidak menunjukan apa-apa,
11.
Menulis pada tataran yang teknis
bukan menulis prinsip-prinsip umum yang normatif dan semua koran sama,
12.
Pastikan ada core meaning
(makna inti) yang akan menghasilkan public meaning(makna untuk public) yang
ingin disampaikan dalam sebuah berita yang kita buat.
13.
Cover all (multi) sides, bukan cover
both sides,
14.
Baca lagi tulisan yang sudah rampung
atau selesai.
G. Jurnalisme dan Pertukaran Makna
Yang terpenting dari jurnalisme kontemporer bukan pada
penyampaian pesan tapi pada pertukaran makna. Di tengah banjir informasi di
media konvensional dan media sosial, jurnalisme madzhab pertukaran makna
menjadi alternatif atau pilihan dari jurnalisme konvensional tentang
penyampaian pesan (berita) dari media (komunikator) ke khalayak (komunikan).
Maka akan timbul karena ada interaksi antara satu orang atau
lebih dalam konteks tertentu melalui berbagai medium. Salah satu bentuk
interaksi adalah melalui bahasa tulisan dalam media cetak yang dikenal dengan
nama berita. Berita yang semula merupakan fakta yang dirangkai secara pribadi dalam
institusi media karena dipublikasikan melalui media cetak ia menimbulkan makna
bagi orang lain. Oleh sebab itu, bahasa dalam bentuk berita tidak bebas nilai.
Ia dikonstruksi dan dan mengkonstruksi maknanya tertentu tergantung orang
yang membuat dan membacanya.
H. Jurnalisme Interpretatif
Semua yang disajikan media kepada khalayak memiliki
ideologi, mengandung kepentingan, dan nilai dari lembaga dari media tersebut.
Muatan ideologi dan kepentingan tersebut ditransformasi dalam bentuk berita.
Ada tiga pertimbangan sebuah peristiwa menjadi berita di
surat kabar, yaitu ideologis, politis, dan bisnis. Pertimbangan ideologis
terjadi karena factor pemilik atau nilai-nilai yang dihayatinya. Pertimbangan
politis berangkat dari kenyataan bahwa pers tidak terlepas dari kehidupan
politik. Sedangkan kepentingan bisnis berkaitan dengan pemasukan dari iklan.
Ketiga pertimbangan itu juga berpengaruh pada sudut pandang berita. Di sinilah
kebijakan redaksinya—biasanya melalui rapat proyeksi atau bujet
berita—menentukan arah sebuah berita. Makanya tidak ada berita yang netral,
tuna ideologi, dan tanpa kepentingan. Sebab berita, seperti produk media lain,
merupakan hasil seleksi dan rekonstruksi.
Kuasa tidak bekerja melalui penindasan dan represi, tetapi
terutama melalui normalisasi dan regulasi. Menurut Foucault, kuasa tidak
bersifat subyektif. Kuasa tidak bekerja dengan cara negatifdan represif,
melainkan secara positif dan produktif. Kuasa memproduksi realitas, memproduksi
lingkup-lingkup objek, danritus-ritus kebenaran. Strategi kuasa tidakn bekerja
melalui penindasan, melainkan melalui normalisasi dan regulasi, menghukum dan
membentuk public yang disiplin. Public tidak dikontrol lewat kekuasaan yang
bersifat fisik, tetapi dikontrol, diatur, dan disiplinkan lewat wacana.
I. Jurnalisme, Agama, dan
Pertanggungjawaban
Indonesia bukan negara sekuler. Pun, tidak menganut Negara agama.
Di negeri ini tidak ada agama yang diakui atau dinafikan. Semuanya boleh hidup
selama menyebarkan kedamaian dan perdamaian. Semua orang boleh hidup di negeri
ini dengan ketentuan mutlak mengakui Pancasila sebagai dasar negara dan UUD
1945.
Penulis ingin menegaskan bahwa dalam konteks Indonesia, pers
atau media tidak hanya bertanggung jawab untuk mentaati kode etik jurnalistik
sebagai standar profesionalisme, tetapi juga harus memihak pada nilai agama
yang dianutnya. Artinya, selain ada pertanggungjawaban di dunia, pekerja pers
negeri ini harus meyakini bahwa mereka juga akan diminta pertanggungjawaban di
akhirat, kelak. Inilah karakter sesungguhnya pers Indonesia.
Link blogspot :
www.zatsuwolf.blogspot.com
